Gunung Lewotobi Laki Laki Meletus: Penerbangan Terganggu

Gunung Lewotobi Laki Laki Meletus: Penerbangan Terganggu

Gunung Lewotobi Laki Laki  yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meletus secara mendadak pada Jumat pagi, 27 Juni 2025. Letusan terjadi pada pukul 05.45 WITA dengan mengeluarkan kolom abu vulkanik setinggi lebih dari 5.000 meter dari kawah utama. Kolom abu berwarna kelabu pekat itu tampak menjulang tinggi dan menyebar ke arah barat laut akibat tiupan angin kencang pagi hari. Suara dentuman keras terdengar hingga ke beberapa kecamatan di luar radius bahaya, menimbulkan kepanikan warga.

Masyarakat sekitar Desa Boru, Hokeng, dan Wailolong menjadi yang pertama merasakan dampak letusan. Abu vulkanik yang menyelimuti atap rumah dan jalanan membuat jarak pandang terbatas. Hujan abu juga memicu gangguan pada aktivitas pertanian dan menyebabkan iritasi mata serta gangguan pernapasan bagi warga yang tidak menggunakan masker. BPBD Flores Timur langsung menerjunkan tim untuk membagikan masker dan mengarahkan warga agar tetap berada di dalam rumah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa aktivitas seismik Gunung Lewotobi sudah menunjukkan peningkatan dalam beberapa hari terakhir, namun intensitasnya melonjak drastis beberapa jam sebelum letusan. Berdasarkan pemantauan, terjadi peningkatan tremor vulkanik dan gas belerang dengan tekanan tinggi. Akibatnya, status gunung pun di naikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas), yang merupakan level tertinggi dalam sistem peringatan dini gunung api.

Gunung Lewotobi Laki Laki  sebagai langkah awal, pemerintah daerah membuka posko tanggap darurat di tiga titik utama, yaitu di Lapangan Boru, Gedung Serbaguna Hokeng, dan Balai Desa Wailolong. Lebih dari 1.200 warga di evakuasi ke tempat aman. Petugas medis, relawan PMI, dan aparat TNI/Polri turut di kerahkan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan pengungsi. Situasi darurat ini di perkirakan akan berlangsung hingga aktivitas gunung benar-benar mereda dan di nyatakan aman.

Lalu Lintas Udara Terganggu: Sejumlah Penerbangan Dibatalkan

Lalu Lintas Udara Terganggu: Sejumlah Penerbangan Dibatalkan di wilayah Nusa Tenggara Timur. Sebaran abu vulkanik yang terbawa angin ke arah barat laut menyebabkan visibilitas di jalur penerbangan terganggu. Bandara Gewayantana di Larantuka menjadi yang paling terdampak. Otoritas bandara mengeluarkan NOTAM (Notice to Airmen) yang menyatakan penutupan sementara operasional mulai pukul 06.30 WITA.

Akibatnya, sejumlah penerbangan dari dan menuju Larantuka, Kupang, Ende, dan Maumere di batalkan. Maskapai seperti Wings Air, Citilink, dan TransNusa melaporkan total 14 penerbangan yang terdampak, termasuk beberapa rute penghubung antar pulau. Penumpukan penumpang di terminal tidak terhindarkan, meskipun petugas bandara dengan sigap memberikan pengumuman dan layanan penjadwalan ulang (reschedule) tanpa biaya tambahan.

AirNav Indonesia menyatakan bahwa mereka memantau pergerakan abu vulkanik secara real-time melalui sistem VAAC (Volcanic Ash Advisory Center) yang berlokasi di Darwin, Australia. VAAC mengeluarkan peringatan level tinggi bagi jalur penerbangan yang melintasi Nusa Tenggara Timur, mengingat kolom abu telah mencapai ketinggian jelajah pesawat komersial. Pilot yang melintasi kawasan tersebut di arahkan untuk mengubah rute atau meningkatkan ketinggian terbang.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Maria Kristina, menyatakan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan penggunaan Bandara El Tari di Kupang sebagai alternatif jika penutupan di Gewayantana berlangsung lebih lama. Pengawasan intensif terhadap arah sebaran abu di lakukan setiap tiga jam untuk mengantisipasi perubahan arah angin.

Penundaan penerbangan ini juga berdampak pada distribusi logistik dan pengiriman barang antar pulau. Sejumlah kargo yang membawa bantuan logistik untuk pengungsi harus di alihkan melalui jalur laut. Pihak pelabuhan Larantuka mengantisipasi lonjakan aktivitas pelayaran dengan mengatur jadwal kapal ferry tambahan yang melayani rute ke pulau-pulau sekitar.

Warga Sekitar Gunung Lewotobi Laki Laki Dievakuasi: Kekhawatiran Akan Awan Panas Guguran

Warga Sekitar Gunung Lewotobi Laki Laki Dievakuasi: Kekhawatiran Akan Awan Panas Guguran dan potensi bahaya lanjutan, pemerintah setempat mengintensifkan evakuasi warga yang tinggal dalam radius 5 kilometer dari kawah Gunung Lewotobi Laki-Laki. Evakuasi di lakukan dengan cepat menggunakan armada truk, kendaraan dinas, dan bahkan kendaraan pribadi yang di koordinasikan oleh relawan. Wilayah yang terdampak paling parah meliputi Desa Boru, Pululera, Nobo, dan sekitarnya.

Aparat gabungan dari TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan bahu-membahu mengamankan proses evakuasi. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam proses pengungsian. Di sejumlah titik, warga yang panik sempat sulit di ajak meninggalkan rumah karena khawatir akan harta benda mereka. Namun petugas terus memberikan pemahaman tentang potensi bahaya awan panas guguran dan banjir lahar hujan.

Di posko pengungsian, pemerintah daerah telah menyiapkan tenda darurat, dapur umum, serta fasilitas medis. Tim dari Dinas Kesehatan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dan distribusi obat-obatan, termasuk inhaler dan masker N95. Palang Merah Indonesia juga mendirikan pos layanan trauma healing bagi anak-anak yang mengalami trauma psikologis akibat peristiwa ini.

Hujan abu yang terus mengguyur menambah tantangan di lapangan. Beberapa jalan penghubung desa tertutup abu setebal hingga 5 sentimeter, menghambat akses kendaraan. Tim pembersih jalan dari Dinas PUPR di terjunkan untuk membantu membuka jalur evakuasi dan logistik. Selain itu, sumber air bersih di beberapa desa juga tercemar, sehingga distribusi air tangki menjadi kebutuhan mendesak.

Meskipun sebagian warga masih mencoba kembali ke rumah untuk menyelamatkan ternak dan barang berharga, petugas keamanan terus berjaga untuk memastikan tidak ada yang memasuki zona merah. Pemerintah mengingatkan bahwa meskipun letusan tampak mereda, potensi letusan sekunder atau awan panas masih sangat tinggi. Oleh karena itu, warga di minta untuk bersabar dan mengikuti arahan resmi hingga kondisi di nyatakan benar-benar aman.

Tanggap Darurat Dan Langkah Pemerintah: Upaya Mitigasi Diperkuat

Tanggap Darurat Dan Langkah Pemerintah: Upaya Mitigasi Diperkuat segera menetapkan status tanggap darurat untuk wilayah Flores Timur menyusul letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, langsung menginstruksikan pengiriman bantuan logistik tahap pertama dan pengerahan personel untuk membantu evakuasi serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak. Posko komando penanganan bencana di buatdi Kantor Bupati Flores Timur sebagai pusat koordinasi lintas sektor.

Kementerian Sosial mengirimkan bantuan berupa makanan siap saji, tikar, selimut, dan tenda keluarga. Selain itu, Kementerian Kesehatan menyiagakan tim medis khusus serta obat-obatan untuk penanganan gangguan pernapasan akibat abu vulkanik. Kementerian PUPR juga di kerahkan untuk mendata dan memperbaiki infrastruktur jalan dan fasilitas umum yang rusak akibat hujan abu.

Presiden Joko Widodo menyampaikan pernyataan resmi dari Istana, menyatakan keprihatinan mendalam dan memastikan bahwa semua warga terdampak akan mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah. Ia meminta agar proses tanggap darurat di lakukan secara cepat dan tepat, serta menginstruksikan penggunaan dana siap pakai dari BNPB untuk mendukung semua langkah yang di perlukan.

PVMBG terus memperkuat sistem pemantauan dengan menambah alat seismograf dan kamera termal di sekitar kawah gunung. Data yang di kumpulkan akan di gunakan untuk memprediksi kemungkinan erupsi lanjutan dan memperbarui status gunung secara berkala. Edukasi kebencanaan juga di gencarkan melalui siaran radio lokal, pengeras suara keliling. Dan media sosial untuk melawan hoaks yang beredar di tengah masyarakat.

Situasi di Flores Timur saat ini masih tergolong rawan. Meskipun intensitas letusan mulai menurun, status Awas tetap di pertahankan hingga ada penilaian lebih lanjut. Pemerintah dan masyarakat kini fokus pada keselamatan jiwa, kelangsungan hidup pengungsi. Serta kesiapan menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi dengan Gunung Lewotobi Laki Laki.