ANALISA24

Dubes AS Duduk Bak “Gubernur Kolonial” Saat Bertemu Menhan Turki

Dubes AS Duduk Bak “Gubernur Kolonial” Saat Bertemu Menhan Turki

Dubes AS Menuai Sorotan Usai Duduk Bak “Gubernur Kolonial” Saat Bertemu Menhan Turki, Memicu Kritik Publik Luas

Dubes AS Menuai Sorotan Usai Duduk Bak “Gubernur Kolonial” Saat Bertemu Menhan Turki, Memicu Kritik Publik Luas. Jagat politik Turki di hebohkan oleh sebuah foto yang memperlihatkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki. Tom Barrack, duduk dengan posisi mencolok saat bertemu Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler. Dalam foto tersebut, Barrack terlihat duduk sendirian di kursi tengah dengan postur santai, sementara Yasar Guler berada di sisi lain. Tata posisi duduk itu memicu kritik luas karena di nilai memperlihatkan kesan dominasi dan tidak mencerminkan etika di plomasi yang setara.

Kegaduhan muncul terutama di media sosial Turki. Banyak netizen menilai gambar tersebut seolah menempatkan diplomat AS seperti seorang “pemimpin” atau “penguasa”. Sementara tuan rumah justru terlihat seperti pihak yang lebih rendah. Kritik pun berkembang cepat, bahkan sebagian politisi oposisi menyebut posisi Barrack tampak seperti “gubernur kolonial”—istilah tajam yang menggambarkan relasi tidak seimbang dalam sejarah politik masa lampau.

Pertemuan di Kantor Menhan, Bukan Di Kedubes

Hal yang membuat kontroversi semakin besar adalah lokasi pertemuan. Foto tersebut di ambil di kantor Kementerian Pertahanan Turki di Ankara. Artinya, pertemuan berlangsung di ruang institusi Turki sebagai tuan rumah. Pertemuan Di Kantor Menhan, Bukan Di Kedubes.

Bagi sebagian kalangan, hal ini di anggap “janggal” karena protokol diplomatik biasanya menempatkan pejabat negara tuan rumah dalam posisi yang lebih menonjol. Atau minimal setara, terlebih saat pertemuan berlangsung di kantor kementerian.

Menurut laporan AFP yang di kutip sejumlah media, Barrack juga di kenal sebagai utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk urusan Suriah. Faktor ini membuat kehadiran Barrack dinilai lebih sensitif, sebab peran AS di wilayah Timur Tengah sering memicu pro-kontra di Turki.

Oposisi Turki Pertanyakan “Protokol Negara”

Sejumlah politisi oposisi ikut menyoroti foto tersebut dan menilai pemerintah Turki perlu menjelaskan mengapa susunan pertemuan terlihat seperti itu. Sebagian pihak mempertanyakan apakah ada kesalahan protokol atau memang ada pesan politik tertentu yang ingin di tunjukkan.

Kritik mengarah pada dugaan bahwa tata posisi duduk menciptakan citra seolah pihak AS memegang kendali dalam pertemuan, sementara Menhan Turki berada pada posisi yang kurang dominan.

Seorang anggota parlemen oposisi bahkan secara terbuka mempertanyakan, “Apakah ini duta besar atau gubernur kolonial?”—menggambarkan kemarahan sebagian kelompok yang menganggap foto tersebut merendahkan martabat diplomasi Turki.

Dubes AS: Pemerintah Turki Belum Beri Penjelasan Detail

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi panjang dari Kementerian Pertahanan Turki terkait alasan susunan posisi duduk dalam foto. Namun beberapa pihak menduga hal itu sekadar teknis ruangan, bukan simbol politik. Dubes AS: Pemerintah Turki Belum Beri Penjelasan Detail.

Meski begitu, perdebatan publik telanjur melebar. Banyak warganet menyebut gestur dalam foto tidak cocok untuk situasi formal. Mereka menilai postur duduk Barrack terlalu santai, sementara suasana pertemuan justru seharusnya memperlihatkan penghormatan diplomatik.

Simbol dan Gestur Jadi Sensitif di Tengah Ketegangan Politik

Kontroversi ini menunjukkan bahwa dalam diplomasi modern, simbol, bahasa tubuh, dan protokol pertemuan dapat menimbulkan tafsir besar, terutama saat hubungan antarnegara sedang penuh di namika.

Apalagi, hubungan AS–Turki kerap naik turun. Mulai dari isu Suriah, kerja sama militer, hingga posisi Turki dalam NATO, semuanya sering menjadi sumber tarik-ulur kebijakan. Dalam konteks itu, foto pertemuan seperti ini mudah ditafsirkan sebagai simbol siapa yang lebih dominan.

Bagi publik Turki, peristiwa ini bukan hanya soal kursi dan posisi duduk, tetapi menyangkut harga diri dan pesan politik yang di anggap tersirat. Karena itu, kontroversi “gubernur kolonial” ini di prediksi masih akan bergulir, terutama jika pihak pemerintah tidak segera memberi klarifikasi menyeluruh.

Exit mobile version